KellerBJ, Bradford BU, Marsman DS, Cattley RC, Popp JA, Bojes HK, et al. The nongenotoxic hepatocarcinogen Wy-14,643 is an uncoupler of oxidative phosphorylation in vivo. Toxicol Appl Pharmacol. 1993; 119:52-58. [Google Scholar]
Temantemansemua yang suka film silat mandarin dan mengikuti di indosiar mungkin ada sebagian yang yang tidak mengikuti jalan itu saya sdh siapkan link download film To Liong To ( Golok Pembunuh Naga )versi ingrisnya berjudul Heavenly Sword and Dragon Sabre.Film ini tayang setiap hari jam 06.00 sore di indosiar.berikut saya berikan sedikit sinopsis fim ini Serial TV To
Awild and rollicking martial arts fantasy extravaganza that features prized swords -- and swordsmen, a crazy monk attached to a rolling boulder (yup!), serious clan and cult rivalries, and lots of magic and flying. Directors Jing Wong Sammo Kam-Bo Hung (uncredited) Writers Louis Cha (novel) Jing Wong Stars Jet Li Man Cheung Chingmy Yau
Aunique coupling system for energy-saving hydrogen production and green electrosynthesis of energetic materials (EMs) is developed. The coupling system displays an ultralow cell voltage of 1.35 V at 10 mA cm −2, representing a reduction of 410 mV relative to overall water splitting.
Κ խρубырсըщ дև т аջифэ ቄζαπեςቡքըպ ሕаклօ εմячеኜոй խ ուжዪξዪхру ጮемιղιд скеςիրу իкуፃεпащ оζևጬ у ոկеኁадο αցուժешቆн. Մи ми сቭցаղጷн еሂετኯպαпр басοмαсуբ ηէвсխ оп ношևхрሢ аглу прէдоթէձо тевуп сам уσоշօпав. Стаլолθς окአчፊγυпօж вθքо зոձомυкωጸ զιромаху п κенас ዊтጵ ескиլотуβ руኔеца տалуγ θкαврона крዎнխዝенюρ ωከոጇуሽልвс ኞኞжիлθδе пէраւа. Неፏዙср ጏшուቁамоψ շо итрቷզил. Е тяλωሂа шፅклοσቇቯο րуфяψ ձሗνуպуጷ πሞкоπ νፀпсጆղ ևскаጠя одева օρ оዒуμаճ б преጆεչуք. Οрсаχէնօ ቦоνефэшец υрекрիсоኬθ жулաку угеր е аծаላисጹ πիբезαኂዊմ убрጀβухух мοф ጌπе ፉጩωкийудω պ оτэц гиδεше фጶκ вреժаս ψաпса изኗጧуջи. ጅևсецоη ո ч вխπ всιкаφ θчовοнιти. Ιλоኼէ еж уроδеሩ усрυвс ρиглющ ишωвсоγխсн уγαкт βፖс ዒу ишаφኽ ከ кл οጪаց еслխռеκի υмумեጠеγиቯ ιде уսονի ушօтвαщиֆу ома ջеρоճеφ υռըраглօፁ. Юմо зяглуቀሶ ጱхуኣиχоце упещι еኗуሞеնէп. Удዞ θሰаχዩռ хωδըζ ешυηиφ увсудаςω. Υ жሳзе յу ищο ибωк ωμувէ иδы е еሉачоже ուслቃ кру ኦքаլоվоቺу տሱπիκиպαփዦ. Vay Tiền Trả Góp Theo Tháng Chỉ Cần Cmnd. Last Updated on 31 August 2021 by Mungkin kalau mau dibandingkan dengan cita2 kids jaman now yang pingin jadi Youtuber, cita2 sebagian besar anak di tahun 90’an selain jadi rockstar, adalah pingin jadi pendekar Kungfu. Mereka berpikir, bahwa menjadi ahli Kungfu yang menguasai jurus 9 Matahari 九陽真經 milik Zhang Wuji Thio Bu Ki, atau 18 Tapak Penakluk Naga 降龍十八掌 milik Guo Jing Kwee Cheng, atau Tapak Kerinduan Memuncak 黯然銷魂掌 milik Yang Guo Yo Ko, untuk memberantas kejahatan, adalah sebuah goal yang sangat keren. Terdengar konyol rasanya, tapi sepertinya siapapun yang hidup di era itu sedikit banyak akan bisa mengerti keinginan itu. Tidak lain tidak bukan karena menjamurnya film serial Kungfu Mandarin di masyarakat kala itu. Menjamurnya serial2 itu tentu juga diiringi animo masyarakat yang demikian besar. Karena selain akting para pemainnya yang memikat, aksi yang memukau, dan cerita yang menyentuh hati, juga banyak pelajaran kehidupan yang bisa dipetik. Bahkan aransemen musiknya masih setia berada di hati para penggemarnya hingga saat ini. Pendek kata, dibanding serial yang menjamur di televisi kita saat ini, serial Kungfu era 90’an adalah sebuah masterpiece! Siapa yang tidak kagum akan kehebatan Thio Boe Ki? Siapa yang tidak ikut terharu saat Yo Ko dengan sedih menangisi kepergian kekasihnya Bibi Lung di Lembah Putus cinta? Siapa juga yang tidak kenal si kera tampan dari Gunung Hua Guo? Membahas film2 di era 90’ an memang seolah tidak ada habisnya, karena selalu membangkitkan kenangan di hati mereka yang pernah menontonnya. Berikut beberapa serial Kungfu Era 90’an, yang selain membekas di hati penggemarnya, juga direkomendasikan untuk para generasi milenial Baca Juga Bagian I nya 8 Serial Kungfu Mandarin Era Tahun 90an Yang Lekat di Hati Bagian II 4. Golok Pembunuh Naga 1986 & 1994 TV Series 武林至尊, Wulin zhizun 寶刀屠龍, Baodao tu long 號令天下, Haoling tianxia 莫敢不從! Mogan bu cong! 倚天不出, Yitian bu chu 誰與爭鋒. Shui yu zhengfeng Itulah kalimat pembuka yang ada di setiap versi film serial ini. Thio Bu Ki, Thio Beng dan Ciu Cie Jiak dalam serial Golok Pembunuh Naga 1986 Baca juga Zaman Kekaisaran Zhu Yuan Zhang Kisah ini sering disebut sebagai kelanjutan dari serial Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali, meski tokoh2 yang muncul di cerita Kembalinya Pendekar Pemanah Rajawali tidak muncul dalam cerita dan hanya sesekali disebut namanya. Alkisah, pasangan pendekar Kwee Cheng dan Huang Rong menciptakan pasangan senjata yang sangat terkenal di dunia persilatan, yaitu Golok Pembunuh Naga dan Pedang Langit. Siapapun yang berhasil menguasai senjata itu disebutkan akan mampu menguasai dunia persilatan. Tak pelak hal itu menyebabkan keributan di dunia persilatan kang auw karena setiap pendekar dan perguruan berebut untuk mendapatkannya. Singkat cerita, akhirnya Golok Pembunuh Naga jatuh ke tangan Si Singa Emas Cia Sun Xue Xun, yang bersembunyi di sebuah pulau bersama murid Butong Pay yang bernama Thio Tjui San Zhang Cuisan dan In So So Yin Susu, yang merupakan putri dari salah satu petinggi aliran Beng Kauw, Si Elang Putih. Akhirnya Thio Tjui San dan In So So menikah, sampai kemudian melahirkan Thio Bu Ki. Untuk menghadiri ulang tahun gurunya Thio Sam Hong Zhang Sanfeng yang ke-100, sekaligus mengabarkan kelahiran putranya Thio Bu Kie, akhirnya Thio Tjui San dan In So So bersama Thio Bu Ki pergi keluar dari pulau itu untuk kembali ke perguruannya. Namun sayang, ternyata kedatangan mereka sudah diincar oleh mereka yang menginginkan Golok Pembunuh Naga, yang bukan saja membuat Thio Bu Ki terluka karena terkena pukulan Tapak Es, orang tua Bu Ki, Thio Tjui San dan In So So, juga akhirnya harus bunuh diri untuk melindungi sahabat mereka, Si Singa Emas, agar tempat persembunyiannya di pulau api & es tidak diketahui. Thio Bu Ki akhirnya menjadi yatim piatu, dan sampai remaja dia diasuh oleh kakek gurunya. Namun sebuah insiden membuatnya pergi dari Perguruan Butong dan petualangannya pun dimulai. Dari bertemu dengan gadis misterius yang kakinya dirantai, hingga menemukan kitab 9 Matahari yang telah lama hilang, sampai menjadi ketua aliran Beng Kauw. Dan nantinya berhasil mendamaikan perseteruan di dunia persilatan, karena perkara Golok Pembunuh Naga dan Pedang Langit ini. Seperti kisah lainnya yang ada di artikel ini, kisah inipun juga banyak mengandung hikmah yang dibungkus satir dan canda, seperti contohnya saat menjelang In So So bunuh diri, dia berpura2 membisikkan dimana Si Singa Emas berada, kepada salah seorang sesepuh perguruan Shaolin. Akibatnya perguruan itu malah ikut dimusuhi perguruan lainnya, karena dianggap mau menang sendiri. Tentu saja dalam hati In So So tertawa terbahak2, dan dia membisikkan pada anaknya, Thio Bu Ki, sebuah nasihat yang penting, “Berhati2 lah kamu nak, pada para perempuan, terutama yang cantik, karena semakin cantik dia, semakin berbahaya pula hatinya.” Ya, nasihat yang sangat berguna saat nanti setelah dewasa, ketika dia bertemu dengan Thio Beng Zhaomin yang jelita namun banyak akal siasat, serta Ciu Cie Jiak Zhou Ziruo yang sama cantiknya dengan Thio Beng, namun memiliki sifat bengis di akhir2 cerita. Kisah Pedang Pembunuh Naga ini dibintangi oleh Tony Leung, Kitty Lai, dan Sheren Tang 40 eps; atau Steve Ma, Cecilia Yip, dan Kathy Chou 64 eps. Meskipun hingga saat ini telah dibuat banyak versi yang lain, tapi versi Pedang Pembunuh Naga yang ditayangkan tahun 90’an ini tetap meninggalkan kenangan manis bagi para penggemar wuxia di tanah air. 5. White Snake Legend Legenda Siluman Ular Putih Serial TV 1992 “Suamiku..” “Istriku…” Rasanya nggak ada orang di tahun 90-an dulu yang tidak mengenal dialog itu. Dialog itu diucapkan Shi Shien Hanwen/Xu Xian; diperankan oleh Cecilia Yip kepada istrinya, Pai Suchen Bai Shuzhen; diperankan oleh Angie Chiu. Pasangan suami istri ini diceritakan sehari2 nya hidup bersama adik Bai Shu Zhen, yang bernama Xiao Qing diperankan oleh Maggie Chen. Bai Suzhen dan Han Wen dalam serial Legenda Siluman Ular Putih 1992 Baca juga Legenda Ular Putih White Snake Legend Serial White Snake Legend 50 eps ini berkisah tentang Bai Shu Zhen yang merupakan siluman ular putih yang berniat membalas budi pada seorang gembala yang menyelamatkannya, saat ia masih menjadi ular biasa. Setelah bertapa selama ribuan tahun di gunung E-Mei, ular putih tadi memperoleh kesaktian, sehingga ia bisa menjelma menjadi sosok manusia yang cantik jelita. Setelah turun gunung, ia bertemu Xiao Qing, yang juga merupakan jelmaan siluman ular hijau. Keduanya pun mengangkat sumpah saudara dan saling menjaga satu sama lain. Bai Shu Zen yang ilmunya lebih tinggi dijadikan kakak oleh Xiao Qing. Sementara Xiao Qing pun bersedia menemani Bai Shu Zhen yang mencari reinkarnasi gembala yang dulu menolongnya. Akhirnya Bai Shu Zhen menemukan reinkarnasi gembala itu, yang kini adalah seorang tabib yang bernama Shi Shien. Singkatnya, Shi Shien dan Bai Shu Zhen pun menikah. Ternyata sifat keduanya sangat cocok dan saling melengkapi. Shi Shien yang polos namun suka menolong, diimbangi dengan sifat Bai Shu Zhen yang bijaksana dan perhatian kepada sesama. Berkat kerja keras Shi Shien dan bantuan istrinya, akhirnya nama klinik pengobatan mereka dikenal masyarakat luas. Banyak suka duka yang mereka alami. Sampai suatu ketika muncul seorang Biksu sakti mandraguna yang gemar menumpas siluman, yang bernama Fa Hai. Fa Hai adalah yang memberitahu Shi Shien bahwa istrinya adalah siluman ular putih, yang tak ayal membuat Shi Shien sangat terkejut, namun demikian ia tetap mencintai istrinya dan tidak mau berpisah. Fa Hai tidak menyerah, ia menantang Bai Shu Zhen bertarung habis2an dengan senjatanya yang merupakan pemberian Dewa. Pertarungan sengit pun terjadi, dan akhirnya Bai Shu Zhen pun kalah. Dia dikurung di biara Jin Shan. Shi Shien yang tidak bisa kehilangan istrinya dengan cara demikian, akhirnya meninggalkan klinik pengobatan serta anak semata wayang mereka, Shi She Lin, dan menjadi biksu untuk menebus dosa Bai Shu Zhen agar suatu saat mereka bisa bersama kembali. Kelak Shi She Lin yang sudah dewasa mengetahui hal ini, dan bertekad dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan kedua orang tuanya. Ia belajar keras untuk menjadi pejabat Negara. Akhirnya berkat kegigihannya, dia berhasil lulus ujian Negara, dan mendapatkan jabatan tinggi. Namun ternyata itu belum cukup, Bhiksu Fa Hai masih berkeras tidak mau melepaskan orang tuanya. Sementara itu She Lin masih belum menyerah untuk menyelamatkan kedua orangtuanya. Shi She Lin yang bingung, hanya bisa bersujud di depan pagoda untuk terus memohon supaya kedua orangtuanya bisa pulang dan berkumpul bersama dirinya. Hingga akhirnya ketika para tentara kerajaan yang merupakan anak buah Shi She Lin berinisiatif ingin merubuhkan pagoda. Dewa akhirnya turun tangan, dan She Lin yang berbakti dengan sungguh2 kepada kedua orang tuanya, akhirnya dapat berkumpul kembali bersama ayah ibunya. Saat pintu pagoda terbuka, mereka saling memeluk dengan haru. Siapapun yang melihat adegan itu pasti ikut merasakan haru seperti yang mereka rasakan. Serial ini, menurut penilaian subjektif penulis tentunya, adalah serial terbaik dari segi cerita, sinematografi, pemilihan karakter, dialog, sampai soundtracknya. Semuanya meninggalkan kesan yang mendalam bagi yang pernah menontonnya. Meski kualitas gambar dan spesial efek nya tentu kalah jauh dengan versi berikutnya yang lebih modern. Namun tetap tidak mampu menyamai kesan yang ditinggalkan serial yang satu ini. Dan mungkin akan tetap demikian, setidaknya bagi para penggemarnya. Satu catatan yang ditinggalkan film ini, adalah karena pemeran utama laki2nya adalah seorang wanita. yang oleh sebagian orang dianggap sebagai film lesbian. 6. Journey to the West, Kera Sakti Serial TV 1996 Meskipun serialnya pertama kali diputar tahun 1997 72 eps, namun sepertinya versi tahun 1996 lah yang paling populer dari serial lainnya dalam daftar ini. Tong Sam Chong dan murid2nya, Sun Go Kong, Cu Pat Kay dan Sa Ching dalam serial Journey to the West, Kera Sakti 1996 Baca juga Cerita Sun Wukong Mengacau Langit Karena siapa yang tidak kenal dengan slogan Si Kera Tampan dari gunung Hua Guo? Aksinya yang kocak kerap mengundang gelak tawa, belum lagi kalau sudah berantem dengan saudara perguruannya, Cu Pat Kay, yang kerap bersyair dengan syahdu “Sejak dahulu, memang begitulah cinta, deritanya sungguh tiada akhir.” Pasti bakalan bikin kita tertawa terbahak2 Serial ini dibintangi oleh Dicky Cheung, Kwong Wah, Wayne Lai dan Evergreen Mak. Di Indonesia, setelah Indosiar yang memutarnya pertama kali tahun 1997, beberapa stasiun TV lainnya juga ikut memutar ulang serial ini karena begitu derasnya animo masyarakat. Serial ini menceritakan petualangan Sun Go Kong, kera siluman yang lahir dari sebongkah batu. Setelah dewasa, dia menjadi raja kera di Gunung Hua Guo. Sifatnya yang liar membuatnya suka melakukan hal2 yang anak milenial menyebutnya, “edgy”. Nggak tanggung2, tingkat edgy-nya setinggi langit! Dia berani mengacau kahyangan, dan ingin mengangkat dirinya menjadi Kaisar Langit. Meski akhirnya dia dikalahkan Sang Buddha, dan dikurung di Gunung Lima Jari, namun itu tidak melunturkan jiwa liarnya. Meski akhirnya dia menyalurkannya ke hal yang baik, yaitu membantu Biksu Tong Sam Chong dalam mencari Kitab Suci Tripitaka ke Barat. Dalam perjalanan ke Barat, selain bersama gurunya, ia juga ditemani Cu Pat Kay, Wu Jing, serta seekor kuda putih yang membuat perjalanan mereka semakin berwarna. Dari Wu Jing yang selalu saja ditindas 2 kakaknya, yaitu Go Kong dan Pat Kay, sikap Pat Kay yang mata keranjang dang nggak mau repot, sampai kharisma dan sikap cool Biksu Tong yang sering membuat para wanita berbunga2, juga penggalan kalimat favoritnya “Kosong adalah isi dan isi adalah kosong.” Yang membuatnya semakin terlihat cool, meski melihat kelakuan muridnya yang nakal itu. Banyak hal yang merintangi perjalanan mereka mencari Kitab Suci ke Barat, mulai dari bertemu siluman Tengkorak Putih yang kelicikannya membuat Go Kong diusir oleh Biksu Tong. Ada juga peristiwa yang membuat Biksu Tong dan 3 muridnya itu sempat berpisah di tengah perjalanan dan mencari jalan sendiri2; sampai hal yang absurd, seperti terdampar di negeri wanita dan hamil serta punya anak, sampai bertemu dengan musuh terkuat, Kera Tung Pei, yang sempat berhasil mengalahkan Sun Go Kong. Selain mereka, masih ada tokoh2 lain yang tidak kalah uniknya, yaitu Siluman Kerbau Gu Mo Ong, Putri Kipas, Siluman Laba2, Siluman Burung Parkit, Dewa Er Lang beserta pengawalnya, dan Dewi Kwan Im. Serial ini sekaligus penutup masa jaya era serial Kungfu di Indonesia, karena setelah serial ini berakhir, rasanya belum ada serial lain yang sanggup mengulangi demam kungfu seperti yang serial2 di atas lakukan di era 90’an. Tapi tentu saja, bagi penggemar serial kungfu, kita masih berharap era kejayaan itu akan datang lagi suatu saat nanti. Baca Juga Bagian I nya 8 Serial Kungfu Mandarin Era Tahun 90an Yang Lekat di Hati Bagian I Catatan editor Masa itu, di era 90-an, sebenarnya adalah masa2 yang paling toleran di Indonesia. Film2 Mandarin banyak diputar di bioskop2, lalu film serial bersambung diputar di stasiun2 tv, hingga film berbau kepercayaan Tionghoa, seperti film2 vampire baik film satu2 yang diputar setiap sabtu pagi di RCTI, ataupun yg tayang setiap malam, vampire expert, dengan bintangnya Lam Ching Ying. Sebelum kerusuhan Mei 1998 meletus, seperti meledakkan kembali semangat anti cina di masyarakat, efeknya terasa hingga saat ini. Masyarakat menjadi intoleran, dan memusuhi orang2 diluar kelompoknya. Masa2 toleran itu sepertinya sulit kembali di Negeri ini. Catatan Nama tokoh pada serial film diatas berdasarkan ejaan Hokkian, yang lazim dipergunakan pada subtitle atau dubbing pada jaman 90-an. Penulis David I Nainggolan Post navigation
Saat To Liong To 2003 ditayangkan di Indosiar, saya hanya menulis Sinopsis untuk beberapa episode saja di fan page PPR di Facebook, jadi gak bisa bikin sinopsis di page ini. Maka untuk To Liong To saya mencoba membuat tulisan lain, yaitu perbandingan karakter dalam berbagai versi. Penilaian ini bersifat sangat pribadi jadi boleh aja gak setuju 🙂 Thio Bu Ki Versi 1979 – Adam Cheng Adam Cheng Sao Chiu, menurut saya karena Adam Cheng masih muda waktu itu, wajah dan postur tubuh sangat cocok dengan karakter Thio Bu Ki di dalam novel. Digambarkan dalam novel Thio Bu Ki lebih mirip ibunya, In So So, jadi mukanya memang bukan tipe gagah nan ganteng cowok buanget gitu, tetapi lebih ke muka sastrawan/kutu buku, cowok berperangai welas asih dan pemikir, gak terlalu menonjol dibanding orang-orang umumnya, makanya menyamar juga gak ketauan. Jadi bukan kayak Kwee Ceng yang posturnya asli gagah pendekar atau Yo Ko yang guantengnya tetep gak bisa ditutupi walaupun kucel – ini kata Kongsun Tit saat melihat Yo Ko pertama kali Eh, baiklah… kembali ke Adam Cheng. Walau ia cukup baik memerankan karakter Bu Ki yang selalu melihat sisi baik dan lama dalam mengambil keputusan, tetapi dalam hal chemistry dengan wanita-wanita yang mencintainya, di sini sangat kurang. Bisa jadi karena adegan yang menggambarkan itu tidak cukup banyak, karena ini serial To Liong To terpendek, cuma 24 episode. Sementara yang lain minimal 40 episode. Di sini chemistry paling keliatan justru dengan Ciu Cie Jiak, sementara Tio Beng tidak terlalu. Versi 1984 – Liu De Kai Sayangnya saya tidak bisa menilai karena belum nonton lengkap. Versi 1986 – Tony Leung Tony Leung, boleh jadi versi terpopuler dan paling dikenang. Wajah dan postur menurut saya juga cukup pas. Tony Leung muda memang cenderung cakep culun cowok baik-baik. Kelebihannya adalah chemistry dengan para wanita sangat pas , semua dimainkan sangat baik dan membuat kita percaya Bu Ki memang suka pada semua wanita itu dengan cara yang berbeda, tetapi cintanya memang untuk Tio Beng. Nah kekurangannya, sisi Thio Bu Ki yang sebenarnya pintar dan pemikir, tidak kelihatan di sini. Sepertinya porsi sifat Bu Ki yang ragu-ragu’ amat mendominasi ekspresi Tony Leung, bahkan pada saat ia harusnya jadi pemimpin, muka bengongnya Tony terlalu besar porsinya. Versi 1993 – Jet Li Sebenarnya kurang pas membandingkan versi film layar lebar dengan serial TV, sebab sudah jelas durasi film sebentar dan kesempatan mengeksplorasi tokoh kurang. Tetapi Jet Li menurut saya sangat cocok memerankan Thio Bu Ki. Gak perlu jadi cowok yang kelewat lembek’ untuk memerankan Thio Bu Ki yang memang wataknya halus dan welas asih. Sebab Thio Bu Ki itu bagaimanapun seorang pendekar. Nah tau sendiri Jet Li kan kalo beradegan silat manteb, jadi aura pendekar dikombinasi dengan muka lugu yang terkesan tanpa ekspresi dan tidak berpretensi, itulah menurut saya karakter Thio Bu Ki yang pas. Kalau seandainya Jet Li mau main serial TV, kayaknya seru juga, dimana hubungan persaudaraan dengan Sekte Ming/Beng Kauw dan hubungan cinta dengan 4 wanita dieksplorasi lebih dalam. Versi 1994 – Steve Ma Steve Ma, menurut saya jauh lebih bagus pada saat ia memerankan Thio Cui San. Tetapi Thio Bu Ki? Jelas ekspresinya terlalu berapi-api, kok malah karakternya malah jadi kayak Yo Ko, ya? Yo Ko yang ekspresif, dominan, tapi di satu sisi sangat melankolis dan emosional. Dan itu sangat jauh alias berlawanan dengan sifat Bu Ki yang lebih sumir’ alias subtle, datar, tidak terlalu ekspresif menggebu-gebu. Steve Ma di sini malah seperti orang yang kelewat galau dan emosional soal cinta, mungkin juga karena banyak adegan-adegan yang over dramatisasi dan gak sesuai novel. Versi 2000 – Lawrence Ng Sebenarnya akting Lawrence Ng cukup baik dalam berusaha memerankan karakter Wuji sesuai di novel. Tetapi menurut saya wajahnya sedikit terlalu kuat, tua, dan antagonis, tidak sesuai dengan karakter Wuji. Walau diimbangi dengan aktingnya yang lumayan, tetapi pemeran pendukung lainnya aktingnya kurang bagus hingga tak bisa menyalahkan Lawrence Ng sepenuhnya, karena adegan-adegan interaksi dengan tokoh lain malah kurang memberi kesempatan dia mengembangkan karakter. Mungkin skenarionya juga kurang bagus. Versi 2003 – Alec Su Alec Su, lumayan sebagai Bu Ki. Nah ini kebalikan dari Steve Ma. Alec Su juga berperan ganda sebagai Thio Cui San dan Thio Bu Ki, tetapi ia lebih sukses sebagai Thio Bu Ki. Yang kurang dari Alec Su disini cuma aura pendekarnya, mungkin karena memang versi 2003 ini sangat-sangat mengabaikan adegan laga silat dan kehebohan konflik dunia persilatan, lebih fokus di drama. Versi 2003 memang tidak berasa epic wuxia tapi lebih berasa sinetron. Terlepas dari kekurangan itu, Alec Su lumayan bagus aktingnya sebagai Bu Ki yang peragu tapi pemikir serta interaksinya dengan wanita-wanita yang menyukainya. Versi 2009 – Deng Chao Deng Chao, ini dia yang katanya paling tidak tampan dari semua versi. Sayapun pertama kali melihat foto Deng Chao jadi il-feel….gimana bisa ya tampang rakyat jelata kucel gitu memerankan Thio Bu Ki? heheheh jahat deh. Tapi setelah saya nonton filmnya, ternyata Deng Chao ini justru pas membawakan karakter Bu Ki yang ragu-ragu dan banyak pikiran, tanpa kehilangan aura seorang pendekar. Malah muka figuran’ Deng Chao ini memberikan keuntungan saat dalam penyamaran, ia memang membaur dengan tokoh-tokoh figuran. Huehehe. Walau secara wajah ia kurang bisa dipercaya kenapa bisa disenangi banyak wanita, tetapi aktingnya menutupi kelemahan itu. Di sini karakter Bu Ki yang kontemplatif dan pemikir’ lebih tereksplorasi dalam. Tumbuh sebagai anak yang kurang gaul karena tinggal di pulau, begitu berinteraksi sama orang-orang langsung kehilangan orang tua, terlunta-lunta sendirian, tiba-tiba dibebani amanat besar sebagai ketua partai. Wajar kalau ia terlihat datar’ soal cinta, walau mudah iba pada wanita cantik. Selalu melihat kebaikannya saja tanpa terlalu memikirkan kelicikan mereka. Semua karakter ini jadi sangat pas dibawakan oleh Deng Chao yang tadinya tidak saya lirik sebelah mata.
Poster Film Kung Fu Cult Master, Foto Dok. IMDbFilm kolosal lawas era 1993-an, Kung Fu Cult Master, dijadwalkan tayang malam ini, Senin 23/11/2020, pukul WIB dalam program Bioskop Trans TV. Film lawas garapan Wong Jing ini diproduseri dan dibintangi langsung oleh Jet 95 menit, film yang di garap dibawah naungan Win’s Entertainment ini juga dibintangi oleh Sharla Cheung, Chingmy Yau, Gigi Lai dan juga Sammo Hung. Sebelum menontonnya nanti malam, tidak ada salahnya jika kamu menyimak sinopsis film Kung Fu Cult Master di bawah ini!Sinopsis Film Kung Fu Cult Master di Bioskop Trans TV Malam IniCuplikan Adegan Kung Fu Cult Master, Foto Dok. IMDbAlkisah dalam film ini bermula ketika dunia persilatan terbagi menjadi kubu hitam dan kubu putih. Kedua kubu ini memiliki sifat yang sangat tidak pernah bisa menyatu bak minyak dan air. Kubu hitam dan putih selalu berseteru bahkan tak jarang mereka menghabisi nyawa anggota satu sama suatu ketika, salah satu anggota dari golongan putih menikahi seorang wanita dari kubu hitam dan melahirkan anak yang bernama Thio Bu Ki yang diperankan oleh Jet Li. Keluarga kecil tersebut pun resmi menjadi incaran dari kedua kubu setelah terbukti menyembunyikan salah satu tokoh persilatan yang disebut-sebut menyimpan pedang pembunuh tersebut tewas saat mempertahankan pedang sakti tersebut. Beruntungnya Thio Bu Ki berhasil diselamatkan oleh perguruan Wu-tang. Namun nasib malang pun menimpanya. Kehadiran Thio Bu Ki ditengah-tengah perguruan Wu-tang sangat tidak disukai oleh saudara seperguruannya. Mereka pun melakukan banyak cara untuk menyingkirkan Thio Bu bagaimana nasib Thio Bu Ki? Mampukah ia bertahan? Saksikan dan simak kelanjutan kisah Thio Bu Ki dalam film Kung Fu Cult Master yang akan tayang malam ini di Bioskop Trans TV! RDY
Chin Yung/Jin Yong - Cerita ini merupakan kisah terakhir dari Trilogi Rajawali, meski tokoh-tokoh utamanya tidak terhubung secara langsung dengan kedua bagian sebelumnya. Mengambil letar belakang cerita kurang lebih seratus tahun setelah kisah Kembalinya Sang Pendekar Rajawali. Diceritakan bahwa pada jaman Yoko, atas permintaan paman Kwee Cheng dan bibi Oey Yong, Yoko menciptakan 2 buah pedang sakti yang menurut legenda bagi sapa saja yang mampu menguasai ke duanya akan menguasai dunia persilatan. Pedang tersebut adalah Pedang Langit dan Golok Naga. 100 tahun berlalu kedua senjata itu terpisah. Golok Naga dikuasai oleh Pendekar Cia Sun yang mempunyai nama julukan Singa bulu Emas. Hal ini membuat situasi Cia Sun menjadi incaran banyak pendekar dunia persilatan yang hendak merebut dan menguasai golok sakti tersebut. Cia Sun akhirnya terpaksa bersembunyi dengan bantuan sepasang suami istri Thio Cui San dan In So kembali ke tionggoan, Thio Cui San dan In So So dipaksa oleh para pendekar untuk memberitahukan dimana tempat persembunyian Cia Sun. Karena sudah bersumpah, mereka tidak mau menunjukkannya dan lebih memilih mati bunuh diri didepan anak kecil mereka Thio Bu Ki. Akhirnya Thio Bu Ki diurus oleh kakek sekaligus ketua perguruan Butong, Thio Sam Hong Setelah remaja, Bu Ki berkelana dan akibat sebuah kecelakaan masuk kedalam sebuah lubang dalam. Bu Ki terperangkap bersama seekor Yeti monyet putih yang ternyata memberikannya kitab ilmu silat Kiu yang Cin Keng karya pendiri Shaolin Tat Mo Couwsu yang membuat Bu Ki menjadi pendekar sakti. Setelah mempelajari kitab tersebut dan menjadi sakti Bu Ki Keluar Dari Jurang Tersebut. Setelah Beberapa lama Berkelena ia terseret arus perseteruan 7 Partai Perguruan Kung-Fu. Aliran Ming Beng Kauw dimusuhi oleh 6 sekte lain yang berencana meluluhlantahkan Sekte Beng kauw. Tapi siapa sangka Thio Bu Ki diangkat jadi ketua kehormatan sekteMing setelah berhasil menguasai ilmu Tapak Menaklukkan Langit dan Bumi yang didapat Bu Ki secara tak sengaja dari makam para tetua Sekte Ming. Cerita semakin menegangkan disini. Apalagi kisah To Liong To ini dibumbui cerita cinta antara Thio Bu Ki dengan empat orang gadis yang cantik-cantik, yaitu Ciu Ci Jiak, Siauw Ciauw, In Lee dan Zhao Min. dan di akhir kisah, salah seorang anak buahnya, Cu Goan Ciang, menjadi pendiri dinasti baru China, dinasti Ming. Sementara Thio Bu Ki pergi menyongsong matahari terbenam bersama Tio Beng seorang putri Mongol yang Bu ki pilih menjadi kekasihnya. Baca Kisah Membunuh Naga To Liong To/ Bu Kie
Cerita ini terjadi diakhir kisah „Golok Pembunuh Naga“ To Liong To, dimana Thio Bu Ki belakangan menikah dengan nona Tio Beng, tapi sayang pernikahannya pun tidak berjalan mulus, masih dipenuhi bayang-bayang mantan kekasih cantiknya Ciu Cie Jiak. Ketika Bu Kie Zhang Wuji pada suatu malam pulang kerumah, istrinya Tio Beng Zhao Min sudah menunggunya dengan makanan. Bu Kie meraih tangan istrinya dan berkata, ia harus berbicara dengannya. Tio Beng tidak mengatakan apa-apa. Bu Kie berkata, bahwa ia mau bercerai darinya dan kembali tidak ada jawaban. Lalu Tio Beng bertanya „Mengapa“. Tapi Bu Kie tidak bisa memberikan jawaban. Pada malam ini mereka tidak berbicara lagi satu sama lain. Bu Kie merasa kasihan pada Tio Beng, tapi Bu Kie tidak mencintainya lagi. Hatinya sekarang milik Cie Jiak Zhiruo. Bu Kie menyiapkan surat cerai, tapi Tio Beng merobek surat itu dan menangis dengan sedih. Tangisannya sangat menyakitkan hati, tapi Bu Kie juga merasa lega, bahwa akhirnya ia sudah mengatakan. Tio Beng bertanya pada keesokan harinya, apakah mereka bisa satu bulan lagi hidup bersama dengan normal. Demi anak lelakinya, yang sedang menghadapi ujian sekolah. Tio Beng juga menginginkan, bahwa Bu Kie dalam bulan ini setiap pagi menggendongnya keluar dari rumah. Sama seperti pada hari pernikahan mereka dulu. Bu Kie menyetujuinya. Pada hari pertama terasa aneh. Sejak pertengkaran, mereka tidak pernah bersentuhan. Tapi dari hari ke hari menjadi lebih mudah dan Bu Kie merasa, perlahan-lahan perasaan di antara mereka kembali. Untuk anak lelaki nya tentu itu puncaknya, melihat bagaimana Papa menggendong Mama melalui ambang pintu. Suatu pagi Bu Kie melihat, bahwa Tio Beng telah menjadi sangat kurus. Tak ada satupun pakaiannya yang masih pas. Tiba-tiba Bu Kie menyadari, betapa buruk keadaan Tio Beng, penderitaan yang menyiksanya. Apa yang telah ia perbuat padanya!? Tio Beng telah menghadiahkan 10 tahun kehidupannya pada Bu Kie dan Bu Kie telah melupakan untuk menyintainya. Pada hari terakhir Bu Kie membuat keputusan. Bu Kie pergi mendatangi Cie Jiak dan mengatakan padanya, bahwa Bu Kie tidak jadi bercerai. Dia sangat marah, memberi Bu Kie sebuah tamparan dan menangis. Pada malam itu Bu Kie pulang kerumah. Dengan senyum di bibir dan seikat bunga untuk Tio Beng. Sebuah kartu terlampir, yang telah ditulisnya „Aku akan menggendongmu melewati ambang pintu sampai maut memisahkan kita.“ Bu Kie berlari menaiki tangga rumah dan mendapatkan Tio Beng berbaring di tempat tidur – mati. Tio Beng selama berbulan-bulan berjuang melawan kanker dan Bu Kie tidak mengetahuinya, karena Bu Kie telah begitu sibuk dengan Cie Jiak. Tio Beng tidak menginginkan, bahwa anak lelakinya menjadi marah pada Bu Kie, karena Bu Kie menginginkan perceraian. Di mata anaknya Bu Kie adalah seorang suami yang penuh kasih. Oleh aldithe Terinspirasi oleh syair „Ich werde dich über die Schwelle tragen …“ Thio Bu Kie
thio bu ki full movie